Jalan M. Syafe'i Blok P Nomor 30 Pontianak, Kalimantan Barat. Telp. (0561) 731059

Rabu, 30 Juni 2010

Aktivis Lingkungan Ajak Selamatkan Bumi Peringatan Hari Bumi

Jum'at, 23/04/2010/pk08:12:00
Pontianak Post

HARI BUMI: Peringatan Hari Bumi, dalah satu hari kemarin ada beberapa kegiatan dilakukan mahasiswa. Di bagian lain, tiga wanita aktivis Makumpala lakukan raveling sembari memasang baleho seruan di tower air PDAM. MUJADI/MAHMUD/PONTIANAKPOST
PONTIANAK – Sejumlah aktivis lingkungan di Kalimantan Barat menggelar aksi damai memperingati hari bumi pada Kamis (22/4). Aksi itu menyerukan agar segera menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Aksi yang diikuti 70 aktivis itu dimulai sekitar pukul 15.45 di Bundaran Untan. Mereka menggelar aksi teaterikal yang mengkritisi ketidakpedulian terhadap isu global warming. Selain berorasi, aksi juga membawa sejumlah spanduk, bendera yang mengajak menyelamatkan bumi dari kerusakan. Aksi mengeliling bundaran selama lima belas menit. Selain berorasi, mereka juga menanam 117 pohon yang terdiri atas rambutan, durian, lengkeng, dan manggis. Menurut Koordinator Aksi dari Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Radius Welly, aksi ini mengingatkan masyarakat terhadap pentingnya menyelamatkan bumi.

“Kami membagikan 117 pohon dari empat jenis tanaman yang berbeda dan akan ditanam di tiga penjuru bundaran Untan. aksi ini merupakan simpatik kami atas pemanasan global yang terjadi di bumi tercinta ini,” ujarnya. Hendrikus Adam dari Walhi Kalbar menjelaskan pemanasan global yang terjadi sekarang lebih banyak karena kerusakan alam terutama hutan di Indonesia. Indonesia sebagai paru-paru dunia diharapkan bisa tetap membuat eksis kehidupan ini menjadi lebih baik, selain sebagai penyeimbang sistem ekologi dan ekosistem makhluk yang ada di bumi.

Selain itu juga karbondioksida menjadi salah satu kontributor terbesar yang mempengaruhi pemanasan global. Metana yang dihasilkan oleh agrikultur dan peternakan, nitrogen oksida dari pupuk dan choloflurocarbon. Serta banyak sebab lain yang juga menyebabkan semakin meningkatnya panas di bumi ini. Walhi Kalbar menyerukan penghentian perluasan pembukaan kawasan perkebunan sawit dan pertambangan skala besar di Kalimantan Barat. Walhi juga meminta penuntasan berbagai kasus kriminalisasi terhadap masyarakat adat seperti kasus di Semunying Jaya. “Pembukaan kawasan hutan dalam skala besar khususnya melalui konsensi perkebunan sawit dan pertambangan yang mengeruk lahan, air, bahan mineral telah mmberikan sejumlah konsekuensi logis-deskruktif terhadap fenomena sosial dan ekologi di Kalimantan Barat. Sedangkan masa depan negeri ini harus bersiap menerima ulah dari keserakahan manusia dengan tindakannya yang cenderung eksploitatif terhdap kekayaan sumber daya alam,” kata Adam.

Adam menambahkan hal lain dari fenomen pembukan kawasan hutan skala besar untuk perkebunan adalah munculnya bencana sosial vertical di masyarakat berupa konflik. Serta mengakibatkan bahaya krisis sumber air dan kabut asap mengiringi krisis lingkungan yang terjadi. Pada tempat terpisah, Mahasiswa Hukum Pencinta Alam juga menggelar aksi memperingati hari bumi di perempatan Jalan Ahmad Yani dan KH Ahmad Dahlan. Dalam aksi tersebut tiga anggota muda Makumpala, Gerdha, Yuli Novinati, dan Demierli, melakukan refling, menurunkan baliho hari bumi tower PDAM. Mereka juga membagikan 500 pohon kepada para pelintas. Menurut Lanang Bagus Prasetyo, dengan pembagian pohon tersebut diharapkan mampu memunculkan keasadaran masyarakat sebagai antisipasi menyelamatkan bumi. (sgg/stm)

Sumber:
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=33294

Tidak ada komentar: